Minggu, 19 Januari 2014

Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka Indonesia

Masa Hindia Belanda - Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa pemuda Indonesia mempunyai "saham" besar dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia serta ada dan berkembangnya pendidikan kepanduan nasional Indonesia. Dalam perkembangan pendidikan kepanduan itu tampak adanya dorongan dan semangat untuk bersatu, namun terdapat gejala adanya berorganisasi yang Bhinneka.
Organisasi kepanduan di Indonesia dimulai oleh adanya cabang "Nederlandsche Padvinders Organisatie" (NPO) pada tahun 1912, yang pada saat pecahnya Perang Dunia I memiliki kwartir besar sendiri serta kemudian berganti nama menjadi "Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging" (NIPV) pada tahun 1916.
Organisasi Kepanduan yang diprakarsai oleh bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie; berdiri atas prakarsa S.P. Mangkunegara VIIpada tahun 1916.

Kenyataan bahwa kepanduan itu senapas dengan pergerakan nasional, seperti tersebut di atas dapat diperhatikan pada adanya "PadvinderMuhammadiyah" yang pada 1920 berganti nama menjadi "Hizbul Wathan" (HW); "Nationale Padvinderij" yang didirikan oleh Budi Utomo; Syarikat Islam mendirikan "Syarikat Islam Afdeling Padvinderij" yang kemudian diganti menjadi "Syarikat Islam Afdeling Pandu" dan lebih dikenal dengan SIAP, Nationale Islamietische Padvinderij (NATIPIJ) didirikan oleh Jong Islamieten Bond (JIB) dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO) didirikan oleh Pemuda Indonesia. Hasrat bersatu bagi organisasi kepanduan Indonesia waktu itu tampak mulai dengan terbentuknya PAPI yaitu

"Persaudaraan Antara Pandu Indonesia" merupakan federasi dari Pandu Kebangsaan, INPO, SIAP, NATIPIJ dan PPS pada tanggal 23 Mei 1928. Federasi ini tidak dapat bertahan lama, karena niat adanya fusi, akibatnya pada 1930 berdirilah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang dirintis oleh tokoh dari Jong Java Padvinders/Pandu Kebangsaan (JJP/PK), INPO dan PPS (JJP-Jong Java Padvinderij); PK-Pandu Kebangsaan).
PAPI kemudian berkembang menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada bulan April 1938.
Antara tahun 1928-1935 bermuncullah gerakan kepanduan Indonesia baik yang bernapas utama kebangsaan maupun bernapas agama. kepanduan yang bernapas kebangsaan dapat dicatat Pandu Indonesia (PI), Padvinders Organisatie Pasundan (POP), Pandu Kesultanan (PK), Sinar Pandu Kita (SPK) dan Kepanduan Rakyat Indonesia (KRI). Sedangkan yang bernapas agama Pandu Ansor, Al Wathoni, Hizbul Wathan, Kepanduan IslamIndonesia (KII), Islamitische Padvinders Organisatie (IPO), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI).
Sebagai upaya untuk menggalang kesatuan dan persatuan, Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia BPPKI merencanakan "All Indonesian Jamboree". Rencana ini mengalami beberapa perubahan baik dalam waktu pelaksanaan maupun nama kegiatan, yang kemudian disepakati diganti dengan "Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem" disingkat PERKINO dan dilaksanakan pada tanggal 19-23 Juli 1941 di Yogyakarta.
Masa Bala Tentara Dai Nippon
"Dai Nippon" ! Itulah nama yang dipakai untuk menyebut Jepang pada waktu itu. Pada masa Perang Dunia II, bala tentara Jepang mengadakan penyerangan dan Belanda meninggalkan Indonesia. Partai dan organisasi rakyat Indonesia, termasuk gerakan kepanduan, dilarang berdiri. Namun upaya menyelenggarakan PERKINO II tetap dilakukan. Bukan hanya itu, semangat kepanduan tetap menyala di dada para anggotanya.Karena Pramuka merupakan suatu organisai yang menjungjung tinggi nilai persatuan.Oleh karena itulah bangsa jepang tidak mengijinkan Pramuka tetap lahir di bumi pertiwi.
Masa Republik Indonesia
Sebulan sesudah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, beberapa tokoh kepanduan berkumpul di Yogyakarta dan bersepakat untuk membentuk Panitia Kesatuan Kepanduan Indonesia sebagai suatu panitia kerja, menunjukkan pembentukan satu wadah organisasi kepanduan untuk seluruh bangsa Indonesia dan segera mengadakan Konggres Kesatuan Kepanduan Indonesia.
Kongres yang dimaksud, dilaksanakan pada tanggal 27-29 Desember 1945 di Surakarta dengan hasil terbentuknya Pandu Rakyat Indonesia. Perkumpulan ini didukung oleh segenap pimpinan dan tokoh serta dikuatkan dengan "Janji Ikatan Sakti", lalu pemerintah RI mengakui sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No.93/Bag. A, tertanggal 1 Februari 1947.
Tahun-tahun sulit dihadapi oleh Pandu Rakyat Indonesia karena serbuan Belanda. Bahkan pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1948 waktu diadakan api unggun di halaman gedung Pegangsaan Timur 56, Jakarta, senjata Belanda mengancam dan memaksa Soeprapto menghadap Tuhan, gugur sebagai Pandu, sebagai patriot yang membuktikan cintanya pada negara, tanah air dan bangsanya. Di daerah yang diduduki Belanda, Pandu Rakyat dilarang berdiri,. Keadaan ini mendorong berdirinya perkumpulan lain seperti Kepanduan Putera Indonesia (KPI), Pandu Puteri Indonesia (PPI), Kepanduan Indonesia Muda (KIM).
Masa perjuangan bersenjata untuk mempertahankan negeri tercinta merupakan pengabdian juga bagi para anggota pergerakan kepanduan di Indonesia, kemudian berakhirlah periode perjuangan bersenjata untuk menegakkan dan mempertahakan kemerdekaan itu, pada waktu inilah Pandu Rakyat Indonesia mengadakan Kongres II di Yogyakarta pada tanggal 20-22 Januari 1950.
Kongres ini antara lain memutuskan untuk menerima konsepsi baru, yaitu memberi kesempatan kepada golongan khusus untuk menghidupakan kembali bekas organisasinya masing-masing dan terbukalah suatu kesempatan bahwa Pandu Rakyat Indonesia bukan lagi satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia dengan keputusan Menteri PP dan K nomor 2344/Kab. tertanggal 6 September 1951 dicabutlah pengakuan pemerintah bahwa Pandu Rakyat Indonesia merupakan satu-satunya wadah kepanduan di Indonesia, jadi keputusan nomor 93/Bag. A tertanggal 1 Februari 1947 itu berakhir sudah.
Mungkin agak aneh juga kalau direnungi, sebab sepuluh hari sesudah keputusan Menteri No. 2334/Kab. itu keluar, maka wakil-wakil organi-sasi kepanduan menga-dakan konfersensi di Ja-karta. Pada saat inilah tepatnya tanggal 16 September 1951 diputuskan berdirinya Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO) sebagai suatu federasi.
Pada 1953 Ipindo berhasil menjadi anggota kepanduan sedunia
Ipindo merupakan federasi bagi organisasi kepanduan putera, sedangkan bagi organisasi puteri terdapat dua federasi yaitu PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia) dan POPPINDO (Persatuan Organisasi Pandu Puteri Indonesia). Kedua federasi ini pernah bersama-sama menyambut singgahnya Lady Baden-Powell ke Indonesia, dalam perjalanan ke Australia.
Dalam peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke-10 Ipindo menyelenggarakan Jambore Nasional, bertempat di Ragunan, Pasar Minggu pada tanggal 10-20 Agustus 1955, Jakarta.
Ipindo sebagai wadah pelaksana kegiatan kepanduan merasa perlu menyelenggarakan seminar agar dapat gambaran upaya untuk menjamin kemurnian dan kelestarian hidup kepanduan. Seminar ini diadakan di Tugu, Bogor pada bulan Januari 1957.
Seminar Tugu ini meng-hasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat dijadikan acuan bagi setiap gerakan kepanduan di Indonesia. Dengan demikian diharapkan ke-pramukaan yang ada dapat dipersatukan. Setahun kemudian pada bulan Novem-ber 1958, Pemerintah RI, dalam hal ini Departemen PP dan K mengadakan seminar di Ciloto, Bogor, Jawa Barat, dengan topik "Penasionalan Kepanduan".
Kalau Jambore untuk putera dilaksanakan di Ragunan Pasar Minggu-Jakarta, maka PKPI menyelenggarakan perkemahan besar untuk puteri yang disebut Desa Semanggi bertempat di Ciputat. Desa Semanggi itu terlaksana pada tahun 1959. Pada tahun ini juga Ipindo mengirimkan kontingennya ke Jambore Dunia di MT. Makiling Filipina.
Nah, masa-masa kemudian adalah masa menjelang lahirnya Gerakan Pramuka.
Kelahiran Gerakan Pramuka
Sumber*Wikipedia

Menyikapi Kejadian Buruk Terhadap Kehidupan sebagai Manusia

Bismillah,

Semua manusia pasti menginginkan kebahagian tanpa mau mengalami susah, pasti.
Lebih nyaman menyalahkan tanpa melihat sebuah proses yang terjadi atau tidak mau melihat bagaimna sebuah kejadina itu terjadi, dan dari sinilah bisa kita bedakan orang bijak. Jika kita melihat dari sebuah proses maka kita akan melihat sebuah kegiatan yang mencangkup pengorbanan, kerja keras dan niat yang tulus.

Sebuah pekerjaan dikatan sukses tidak hanya dilihat dari hasil yang bisa kita katakan dengan "sempurna" tapi juga sebuah proses yang terjadi didalamnya. Berbica sebuah proses tidak hanya bagaiman cara kita mengerjakannya tapi terlepas dari itu semua adalah bagaimna kita berniat untuknya, saaran saya sih lebih baik mantabkan dulu niat kalian dalam mengejrakan suatu perkerjaan apapun itu. Jika sudah mantab dan siap, maka kita (pribadi) juga siap menjalaninya, kedepan apa yang akan kita kerjakan itu tak ada beban jadi kita menjadi sebuah proses tadi tak merasakan beban tekanan yang berat (tekanan bisa saja dari atasan, lingkungan, rekan kerja, atau mungkin pekerjaan itu sendri). terlepas dari pembahasan hasil tadi, niatakan kita melakukan pekerjakan hanya berdasakan kepetingan pribadi maka hasilnya pun akan pribadi tapi jika kita niatkan untuk orang banyak maka akan banyak orang pula yang menikmati jerih payah kita tadi.

"masalah" ya, semua orang pasti mengalami dan bahkan sudah akrab dengan kawan kita yang satu ini dan bisa dikatakan semua orang mengenalnya tanpa kecuali tidak pandang bulu, baik presiden, raja, atau penguasa dunia sekalipun mengenalnya. Masalah dalam pengertian saya adalah suatu proses yang didalamnya kita dihapkan sebuah soal kehidupan yang harus kita selesaikan dengan bijak dan mampu mengambil pelajaran buruk, susah, menyakitkan, tertekan, terhina dan tersudutkan untuk bisa dijadikan sebuah irama kebahagian yang sejati.

Tahukah kalian, tidak ada satupun masalah yang tak ada penyelesaiannya.
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran [3]: 139).
Mengutip dari Kalam Ilahi diatas, saya berkesimpulan bahawa manusia itu orang yang kuat dan mampu namun terlepas hal diatas kita sebagai manusia kooperatif kepada masalah kita, jangan hanya menyalahakn masalah. cobalah tengok kembali apa yang sebenarnya terjadi, rangkai kembali urut lagi proses yang kita alami.

Sungguh Allah menjawab setiap masalah kita.
Ketika kita mengeluh, maka akan selalu ada jawaban dari Allah SWT untuk kita. Misalnya, “Rasanya aku tidak mampu menghadapi masalah seperti ini, berat terasa oleh ku. Sungguh aku tak sanggup lagi.” Sungguh Allah menjawab;
“Jika Allah menghendaki sesuatu, Allah cukup berkata jadi maka jadilah” (QS. 36 : 82).
Ketika kita mengeluh, “Aku terlalu lelah” Allah menjawab, “Aku ciptakan tidurmu untuk istirahatmu.” (QS. 78 : 9).
Ketika kita mengeluh, “Aku tak sanggup lagi, aku tak mampu lagi, semua sudah tidak mungkin kuhadapi” Allah menjawab, “Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya, melainkan sesuai kemampuannya” (QS. Al Baqarah [2] : 286).
Ketika kita mengeluh, “Berbagai upaya sudah saya lakukan tapi hasilnya nihil. Saya benar-benar stress dibuatnya” Allah menjawab;
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Hanya dengan mengingat Aku maka hati menjadi tenang.” (QS. 13 : 28).
Bahkan ketika kita mengeluh, “Aku sudah tidak ada gunanya lagi, untuk apa aku hidup” sungguh Allah telah menjawab;
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. 99 : 7).
Jika demikian untuk apa kita mengeluh, bukankah Allah telah menjawab semua bakal keluhan umat manusia. Maka dari itu biasakanlah diri untuk benar-benar mempelajari Al-Qur’an dengan baik. Sungguh Al-Qur’an itu menjawab setiap masalah. Maka ambillah obat atau madu darinya.
Sebenarnya mengeluh atau tidak itu adalah pilihan hati. Hati yang senantiasa dihiasi dengan bacaan Al-Qur’an insya Allah terhindar dari sikap kerdil, lemah, lesu, letih, lunglai, dan tak berdaya. Sementara hati yang sepi dari bacaan Al-Qur’an akan sangat mudah terganggu oleh dinamika kehidupan sehingga sulit menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur.
Terhadap orang yang pandai bersyukur Allah berjanji akan menambah terus-menerus kenikmatan yang diberi dan bagi yang kufur (tidak mau bersyukur) Allah sediakan siksa yang pedih.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS.ar Ra’d [14] : 7).
Jadi selagi masih ada kesempatan mari berusaha untuk memahami ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya. Sungguh apabila hati kita telah diterangi oleh Al-Qur’an akan muncul semangat, gairah, optimisme, dan keyakinan kuat bahwa Allah selalu menyertai kita dan karena itu akan muncul usaha maksimal dari dalam diri kita.
Apabila itu benar-benar dapat kita raih sungguh kebahagiaan, kemenangan dan kesuksesan sejati telah berada di tangan kita. Sebab Allah telah berjanji akan memberi jalan-jalan kepada hamba-hamba-Nya yang bermujahadah (bersungguh-sungguh tidak mengeluh) dan senantiasa berbuat kebaikan.
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 29 : 69).
Jika sedemikian rupa Allah telah memberi jawaban atas keluhan setiap hamba-Nya, masihkah kita akan menjadi manusia kerdil? Sungguh keluhan itu adalah sesuatu yang mesti kita enyahkan dalam akal dan jiwa kita. Allah dan Rasul-Nya hanya berpesan satu hal, berjihadlah, bersungguh-sungguhlah, kelak engkau pasti akan menang. Jadi mari kita ucapkan,
“Selamat tinggal keluhan, selamat datang harapan

The Awesome of Skyline Hill in Jayapura,Papua


The Awesome of Skyline Hill in Jayapura,Papua

(1)There are many tourism places in Jayapura, Papua; one of the best places is Skyline hill. (3) It is an area between Abepura and Jayapura city. (4) Three sides beyond skyline hill make the hill awesome: from the left side, from the right side and on the top hill.

(1)Two amazing places on the left side are Yotefa bay and Timbul-tenggelam field. (2) Yotefa bay is one of the two bays that flank Jayapura Island. (3)There are coconut vendors in the entries. (4)The number of mangrove trees around make the bay is quite shady. (5)The wind blew up orderly as if make a pattern. (6)The water is blue and clear; it flows calmly so we can only hear the wind and the bird sound. (7)The bay is clean with white and smooth sand. (8) In the center of the gulf there are several small islands unoccupied. (9) On the other hand, there is also timbul-tenggelam field. (10) Timbul-tenggelam field is a broad land in the water. (11) The unique things of this field are: when there is high water, the land will disappear; when the water is low tide, the land will arise and become a large field. (12) The sand in the field is very small and there are no big rocks or sharp things. (13) The visitor often uses the field to play football, volleyball, and to play kites.
(1)The other great places of Skyline on the top hill are Crocodile farm and Hindu temple. (2) Crocodile farm is very large. (3) It is consist of 40 pools with size 16o m2 for each pool. (4) In every pool, there will be 300 crocodiles from one year up to ten years. (5) The whole amount is 1200 crocodiles with children size 50cm-1m and adult size 1m – 10m. (6) There are two kinds of crocodiles: land crocodile (Novaguinea crocodile) and estuary crocodile (Paracous crocodile). (7) The purpose of developing this farm is to conserve rare crocodiles. (8) The other purpose is commercialized the crocodile. (9) The meat is used to make dendeng and tangkur for men’s vitality. (10) The valuable skins are exported to overseas. (11) Furthermore, there is Hindu temple called Pura near the farm. (12) The ground in this area was filled with fresh and tidy grass. (13) The weather is colder as the place lies on the top hill. (14) The facilities that served are worship place, resting place, benches, and small garden.
(1) The last beautiful place in skyline from the right side is Buddhist temple or Vihara. (2) The building was classic-Dutch designed. (3) The building seems like new because it always takes care by people who lived around the place. (4) There are many Cambodia trees in every corner make the place smell good. (5) Not only for praying, this place also used for watching sunrise and sunset. (6) Moreover, it is used for jogging and relaxing mind.
(1) Skyline is the best place to visit when you want to enjoy your spare time without spending much cost. (2) You will not feel disappointed if you go to this place.

Makalah Perkembangan Peserta Didik


LAPORAN
OBSERVASI PERKEMBNGAN PESERTA DIDIK ANAK USIA SD
DI SD NEGRI TEGALWERU DAU MALANG
A.     Pendahuluan

Industry vs litferioriry (6 Tahun – 11 Tahun). Anak mulai mampu berpikir deduktif, bermain dan belajar menurut peraturan yang ada. Dimensi psikososial yang rnuncul pada masa ini adalah: sense of industry = sense of inferiority. Anak didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan dengan benda-benda yang praktis. dan mengerjakannya sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu. Berdasarkan hasilnya mereka dihargai dan di mana perlu diberi hadiah. Dengan demikian rasa atau sifat ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan. Pada usia sekolah dasar ini dunia anak bukan hanya lingkungan rumah saja melainkan mencakup juga lembaga-lembaga lain yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu. Pengalaman-pengalaman sekolah anak mempengaruhi industry dan inferiority anak. Anak dengan IQ 80 atau 90 akan mempunyai pengalaman sekolah yang kurang memuaskan walaupun sifat industry dipupuk dan dikembangkan di rutinitas. Ini dapat menimbulkan rasa inferiority (rasa tidak mampu). Keseimbangan industry dan inferiority bukan hanya bergantung kepada orang tuanya, tetapi dipengaruhi pula oleh orang-orang dewasa lain yang berhubungan dengan anak itu

B.     Tahahapan Penerimaan Siswa baru di SDN Tegalweru

Secara umum penerimaan siswa baru yang ada di sekolah tersebut sama halnya dengan sekolah kebanyakan pada umumnya. Namun ada beberapa hal yang membedakan disekolah tersebut. Drs. Syamsul M.Si, menyatakan bahwa secara khusus penerimaan di SDN Tegalweru terbilang tidak ada, tidak ada tes masuk untuk seolah tersebut yang terpenting adanya kemaun dari peserta didik untuk bersekolah. Hal ini demikian karena pada dsarnya lingkungan disekitar sekolah tersebut bisa dikatakan masih kurangnya kesadaran akan pendidikan dan faktor ekonomi yang kurang mendukung juga menjadi perhatian pihak sekolah dalam penerimaan siswa baru.

C.     Aspek-aspek pedoman yang menjadi pedoman di dalam penerimaan siswa baru di SDN Tegalweru.

Didalam Observasi yang dilakukan Tim Penulis, hanya ada dua aspek pedoman yang di ajukan pihak sekolah kepada para calon siswa baru yakni:

1.      Usia Minimal tidak kurang 6,5tahun pada saat mendaftar,
2.      Memiliki Izasah TK.
Dikebanyakan sekolah kita tahu bahwa setiap siswa yang akan memasuki sekolah akan melalui tes masuk, minimal tes membaca, tidak halnya dengan yang terjadi SDN Tegalweru, yang Tim Penulisa dapati, tidak adanya tes dan syarat untuk bisa membacapun tidak dituntut untuk calon siswa baru.
Praoperasional (2 – 7 tahun). Sifat-sifat anak adalah, belum sanggup melakukan operasi mental, belum dapat membedakan antara permainan dengan kenyataan, atau belum dapat mengembangkan struktur rasional yang cukup, masa transisi antara struktur sensori motor ke berpikir operasional. Perubahan yang terlihat pada anak adalah, sifat egosentris baru akan berkembang apabila anak banyak berinteraksi sosial, konsep tentang ruang dan waktu mulai bertambah, bahasa mulai dikuasai.
(Sumber:
http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2156407-tahapan-perkembangan-intelektual-anak/#ixzz1eNYtiPJ2)

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat bagaimana efek dari mengajarkan membaca sebelum waktunya. Seorang psikolog di Amerika membandingkan dua kelompok anak. Kelompok pertama merupakan anak-anak yang dimasukkan ke TK-TK akademis, yakni TK yang metode pembelajarannya seperti layaknya di SD, mengajarkan para muridnya berbagai pelajaran termasuk membaca. Sementara kelompok kedua merupakan murid-murid TK-TK biasa, yakni TK yang mengutamakan metode bermain bagi siswanya. Hasilnya, saat duduk di kelas 1 SD, para lulusan TK akademis ternyata tidak memiliki keunggulan akademis jangka pendek, apalagi jangka panjang, jika dibandingkan dengan siswa lulusan TK biasa. Bahkan murid-murid TK akademis terlihat lebih gelisah dan kurang kreatif jika dibandingkan murid-murid TK biasa (http://today.msnbc.msn.com).
Penelitian lain di Finlandia, yang dilakukan oleh Marit Korkman, Sarianna Baron, Pekka Lahti (1999), diketahui bahwa anak yang belajar membaca saat mendapat pendidikan formal di usia 6-7 tahun memiliki prestasi membaca lebih bagus dibanding anak lain yang belajar membaca di usia sebelum 6 tahun. Hal ini diketahui ketika dilakukan tes pada anak-anak tersebut di usia 9 atau 10 tahun (jurnal Developmental Neuropsychology, Vol. 16, 1999).
Berdasarkan teori di atas, maka Tim Penulis menyimpulkan bahwa Perkembangan secara umum telah sesuai dengan tahapan anak usia sekolah dasar terlebih para calon siswa baru yang akan menjadi murid di SD tersebut. Pada kenyaataannya disekolah ini juga terdapat kendala pada perkembanagan peserta didik yang diluar kontrol akibat dari pengaruh lingkungan yang kurang sehat. Tim Penulis mengatakan kurang sehat karena lingkungan di sekitar sekolah tergolong heterogen terdiri dari berbagai kalangan, namun dominan kalangan petani yang taraf pendidikanya masih tergolong dibawah rata-rata, hal ini juga lah yang mendorong pihak sekolah mengambil langkah untuk tidak melakukan tes masuk sekolah atau dengan kata lain menuntut calon siswa baru bisa membaca.
D.     Program-program Ekstra yang ada di SDN Tegalweru.

Didalam pemaparan pihak sekolah, kegiatan ekstra yang ada disekolah tersebut diantara lain adalah sebagai berikut :

1.      Pramuka
2.      Seni Drama ( Proses pembentukan )
3.      Drum Band/ Marching band ( Proses pembentukan )

E.      Analisis dampak dari kegiatan yang diberikan pihak sekolah terhadap siswa yang ada di SDN Tegalweru.

1.      Perkembangan Psikoseksual ( Freud)
Fase laten (6-12 tahun)
-         Kepuasan anak mulai terintegrasi, anak akan menggunakan energi fisik dan psikologis untuk mengeksplorasi  pengetahuan dan pengalamannya melalui aktifitas fisik m/p sosialnya.
-         Pada awal fase laten ,anak perempuan lebih menyukai teman dgn jenis kelamin yang sama, demikian juga sebaliknya.
Pertanyaan anak semakin banyak, mengarah pada sistem reproduksi (Orang tua harus bijaksana dan merespon)
2.      Perkembangan Psikososial ( Erik Erikson  )
Industry versus inferiority (6-12 tahun)
-         Anak akan belajar untuk bekerjasama  dan bersaing dalam kegiatan akademik m/p dalam pergaulan melalui permainan yg dilakukan bersama.
-         Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yg diinginkan sehingga anak pada usia ini rajin dalam melakukan sesuatu.
-         Apabila dalam tahap ini anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkunganya dan anak tidak berhasil memenuhinya maka akan timbul rasa inferiorty ( rendah diri ).
-         Reinforcement dari orang tua atau orang lain  menjadi begitu penting untuk menguatkan perasaan berhasil dalam melakukan sesuatu.
3.      Perkembangan Kognitif ( Piaget )
Tahap Kongkret (7-11 tahun)
-         Pemikiran anak meningkat atau bertambah logis dan koheren
-         Kemampuan berpikir anak sudah operasional, imajinatif dan dapat menggali objek  untuk memecahkan suatu masalah.
Berdarkan beberapa teori diatas Tim Penulis menyimpulkan bahwa kegiatan ekstra yang disajikan pihak sekolah sesuia dengan perkembangan usia anak pada level 6-11 tahun, dengan analisis sebagai berikut :
a.       Pramuka
Didalam pengajaran pramuka anaak diajarkaan bagaimana saling berkerjasama, melatih ketangkasan, dilatih untuk menganalisis beberapa permasalahan atau mencari jalan keluar dalam konteks masalah sederhana, misal : membagai tugas didalam kegiatan bagi ketua regu, memecahahkan teka-teki ( dalam pembelajaran sandi ). Anak juga diajarkan bagaimana bergaul terhadap orang lain, bagaimna berinteraksi dengn orang yang lebih tua dari pada anak ( terhadap Pembina ). Kemandirian. Misalkan suatu saat kita mnegalami kecelakaan di tempat terpencil jauh dari pemukiman, pramuka mengajarkan P3K, tali temali, dsb. Jemuran yang patah pun dapat diatasi sendiri. Mendapat keluarga baru. Tidak hanya di sekolah, di kota, di Indonesia, bahkan di duniapun berkat “pramuka” , orang sedunia bisa bertemu seperti Jambore Dunia. Lebih mencintai Lingkungan. Bagaimana pramuka mengajarkan tentang lingkungan alam beserta pelestariannya, mengenal flora dan fauna. Lewat penjelejahan alam bebas pramuka diajarkan untuk lebih akrab dengan alam. Leadership. Melalui pramuka diajarkan jiwa kepemimpinan, disiplin, kejujuran, tanggungjawab, menjawab semua masalah dan mengatasinya,.

b.      Seni Drama
Didalam ekstra ini Tim Penulis berpendapat; berdasarkan Soemanto ( 2006: 15) Sebuah perbuatan atau laku di panggung dapat bernas dan berbobot jika dilandasi alasan. Tanggapan yang muncul dalam diri seseorang menjadi alasan suatu perbuatan. Karena di panggung ada benda , suara dan cahaya yang dapat dilihat, diraba, didengar, dibaui, dan bahkan dicecap ( misalnya makanan atau minuman), maka rangsangan untuk menciptakan motif atau alasan itu tersedia di panggung.

Hal diatas menjelaskan bahwa di usia anak sekolah (6-11 tahun) dan sesuai dengan perkembangan anak di SDN Tegalweru, selaras dengan perkembangan anak yang dalam tahap perkembangan yang maksimal. Anak mulai dikenalkan berbagai peran yang berbeda dan diajarkan bagaimana memahami sesutu yang berbeda didalam bergaul sesama teman ataupun dengan orang yang lebih tua.

c.       Drum Band/ Marching band
Dalam konteks pendidikan dan pertumbuhan emosional siswa, pembinaan watak dan kepribadian melalui pelatihan marching band ini sangat direkomendasikan.
Pasalnya, musikalitas marching band identik dengan kerjasama dan keutuhan team, tidak bisa saling menonjolkan kemampuan atau kepiawaian masing-masing. Kenyataan ini yang diharapkan mampu untuk melatih kesabaran dan kebersamaan para
siswa. Diliat dari kegiatannya yang terbagi dua bagian tak terpisahkan, yakni musikal dan visual, maka marching band terasa lebih kompleks jika dibandingkan dengan kegiatan lain. Disamping itu marching band melalui musik bertujuan membina watak.

F.      Usulan Kegiatan ekstra dan perangkat Pendidikan Di Sekolah Dasar Negri Tegalweru.

Tim Penulis mengusulkan adanya penambahan beberapa kegiatan ekstra diantarnya :
1.      Kegiatan ekstra yang berlatar belakang keagamaan ( Contoh, Tilawatil Qur’an ). Berdasarkan observasi yang dilakuakan Tim Penulis bahwasanya disekolah tersebut kurang pemahaman dasar tentang agama, mushola yang ada dilingkungan sekolah kurang berfungsi sebagaimana seharusnya.
2.      Penambahan ( Jika bisa ) guru pembimbing atau yang sering disebut BP.
3.      Penadampingan yang intesnsif tehadap anak, sejauh pengamataan Tim Penulis para guru lebih cendrung membiarkan anak didiknya bebas ( Hasil yang dilakukan Tim dalam beberapa hari observasi di SD tersebut ).
4.      Menyalurkan minat dan bakat para siswa yang berprestasi di dalam bidang tertentu. ( Contoh, dalam bidang minat bakat seperti bidang kesenian).