Minggu, 19 Januari 2014

Menyikapi Kejadian Buruk Terhadap Kehidupan sebagai Manusia

Bismillah,

Semua manusia pasti menginginkan kebahagian tanpa mau mengalami susah, pasti.
Lebih nyaman menyalahkan tanpa melihat sebuah proses yang terjadi atau tidak mau melihat bagaimna sebuah kejadina itu terjadi, dan dari sinilah bisa kita bedakan orang bijak. Jika kita melihat dari sebuah proses maka kita akan melihat sebuah kegiatan yang mencangkup pengorbanan, kerja keras dan niat yang tulus.

Sebuah pekerjaan dikatan sukses tidak hanya dilihat dari hasil yang bisa kita katakan dengan "sempurna" tapi juga sebuah proses yang terjadi didalamnya. Berbica sebuah proses tidak hanya bagaiman cara kita mengerjakannya tapi terlepas dari itu semua adalah bagaimna kita berniat untuknya, saaran saya sih lebih baik mantabkan dulu niat kalian dalam mengejrakan suatu perkerjaan apapun itu. Jika sudah mantab dan siap, maka kita (pribadi) juga siap menjalaninya, kedepan apa yang akan kita kerjakan itu tak ada beban jadi kita menjadi sebuah proses tadi tak merasakan beban tekanan yang berat (tekanan bisa saja dari atasan, lingkungan, rekan kerja, atau mungkin pekerjaan itu sendri). terlepas dari pembahasan hasil tadi, niatakan kita melakukan pekerjakan hanya berdasakan kepetingan pribadi maka hasilnya pun akan pribadi tapi jika kita niatkan untuk orang banyak maka akan banyak orang pula yang menikmati jerih payah kita tadi.

"masalah" ya, semua orang pasti mengalami dan bahkan sudah akrab dengan kawan kita yang satu ini dan bisa dikatakan semua orang mengenalnya tanpa kecuali tidak pandang bulu, baik presiden, raja, atau penguasa dunia sekalipun mengenalnya. Masalah dalam pengertian saya adalah suatu proses yang didalamnya kita dihapkan sebuah soal kehidupan yang harus kita selesaikan dengan bijak dan mampu mengambil pelajaran buruk, susah, menyakitkan, tertekan, terhina dan tersudutkan untuk bisa dijadikan sebuah irama kebahagian yang sejati.

Tahukah kalian, tidak ada satupun masalah yang tak ada penyelesaiannya.
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran [3]: 139).
Mengutip dari Kalam Ilahi diatas, saya berkesimpulan bahawa manusia itu orang yang kuat dan mampu namun terlepas hal diatas kita sebagai manusia kooperatif kepada masalah kita, jangan hanya menyalahakn masalah. cobalah tengok kembali apa yang sebenarnya terjadi, rangkai kembali urut lagi proses yang kita alami.

Sungguh Allah menjawab setiap masalah kita.
Ketika kita mengeluh, maka akan selalu ada jawaban dari Allah SWT untuk kita. Misalnya, “Rasanya aku tidak mampu menghadapi masalah seperti ini, berat terasa oleh ku. Sungguh aku tak sanggup lagi.” Sungguh Allah menjawab;
“Jika Allah menghendaki sesuatu, Allah cukup berkata jadi maka jadilah” (QS. 36 : 82).
Ketika kita mengeluh, “Aku terlalu lelah” Allah menjawab, “Aku ciptakan tidurmu untuk istirahatmu.” (QS. 78 : 9).
Ketika kita mengeluh, “Aku tak sanggup lagi, aku tak mampu lagi, semua sudah tidak mungkin kuhadapi” Allah menjawab, “Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya, melainkan sesuai kemampuannya” (QS. Al Baqarah [2] : 286).
Ketika kita mengeluh, “Berbagai upaya sudah saya lakukan tapi hasilnya nihil. Saya benar-benar stress dibuatnya” Allah menjawab;
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Hanya dengan mengingat Aku maka hati menjadi tenang.” (QS. 13 : 28).
Bahkan ketika kita mengeluh, “Aku sudah tidak ada gunanya lagi, untuk apa aku hidup” sungguh Allah telah menjawab;
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. 99 : 7).
Jika demikian untuk apa kita mengeluh, bukankah Allah telah menjawab semua bakal keluhan umat manusia. Maka dari itu biasakanlah diri untuk benar-benar mempelajari Al-Qur’an dengan baik. Sungguh Al-Qur’an itu menjawab setiap masalah. Maka ambillah obat atau madu darinya.
Sebenarnya mengeluh atau tidak itu adalah pilihan hati. Hati yang senantiasa dihiasi dengan bacaan Al-Qur’an insya Allah terhindar dari sikap kerdil, lemah, lesu, letih, lunglai, dan tak berdaya. Sementara hati yang sepi dari bacaan Al-Qur’an akan sangat mudah terganggu oleh dinamika kehidupan sehingga sulit menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur.
Terhadap orang yang pandai bersyukur Allah berjanji akan menambah terus-menerus kenikmatan yang diberi dan bagi yang kufur (tidak mau bersyukur) Allah sediakan siksa yang pedih.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS.ar Ra’d [14] : 7).
Jadi selagi masih ada kesempatan mari berusaha untuk memahami ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya. Sungguh apabila hati kita telah diterangi oleh Al-Qur’an akan muncul semangat, gairah, optimisme, dan keyakinan kuat bahwa Allah selalu menyertai kita dan karena itu akan muncul usaha maksimal dari dalam diri kita.
Apabila itu benar-benar dapat kita raih sungguh kebahagiaan, kemenangan dan kesuksesan sejati telah berada di tangan kita. Sebab Allah telah berjanji akan memberi jalan-jalan kepada hamba-hamba-Nya yang bermujahadah (bersungguh-sungguh tidak mengeluh) dan senantiasa berbuat kebaikan.
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 29 : 69).
Jika sedemikian rupa Allah telah memberi jawaban atas keluhan setiap hamba-Nya, masihkah kita akan menjadi manusia kerdil? Sungguh keluhan itu adalah sesuatu yang mesti kita enyahkan dalam akal dan jiwa kita. Allah dan Rasul-Nya hanya berpesan satu hal, berjihadlah, bersungguh-sungguhlah, kelak engkau pasti akan menang. Jadi mari kita ucapkan,
“Selamat tinggal keluhan, selamat datang harapan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar