Minggu, 19 Januari 2014

Makalah Perkembangan Peserta Didik


LAPORAN
OBSERVASI PERKEMBNGAN PESERTA DIDIK ANAK USIA SD
DI SD NEGRI TEGALWERU DAU MALANG
A.     Pendahuluan

Industry vs litferioriry (6 Tahun – 11 Tahun). Anak mulai mampu berpikir deduktif, bermain dan belajar menurut peraturan yang ada. Dimensi psikososial yang rnuncul pada masa ini adalah: sense of industry = sense of inferiority. Anak didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan dengan benda-benda yang praktis. dan mengerjakannya sampai selesai sehingga menghasilkan sesuatu. Berdasarkan hasilnya mereka dihargai dan di mana perlu diberi hadiah. Dengan demikian rasa atau sifat ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan. Pada usia sekolah dasar ini dunia anak bukan hanya lingkungan rumah saja melainkan mencakup juga lembaga-lembaga lain yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan individu. Pengalaman-pengalaman sekolah anak mempengaruhi industry dan inferiority anak. Anak dengan IQ 80 atau 90 akan mempunyai pengalaman sekolah yang kurang memuaskan walaupun sifat industry dipupuk dan dikembangkan di rutinitas. Ini dapat menimbulkan rasa inferiority (rasa tidak mampu). Keseimbangan industry dan inferiority bukan hanya bergantung kepada orang tuanya, tetapi dipengaruhi pula oleh orang-orang dewasa lain yang berhubungan dengan anak itu

B.     Tahahapan Penerimaan Siswa baru di SDN Tegalweru

Secara umum penerimaan siswa baru yang ada di sekolah tersebut sama halnya dengan sekolah kebanyakan pada umumnya. Namun ada beberapa hal yang membedakan disekolah tersebut. Drs. Syamsul M.Si, menyatakan bahwa secara khusus penerimaan di SDN Tegalweru terbilang tidak ada, tidak ada tes masuk untuk seolah tersebut yang terpenting adanya kemaun dari peserta didik untuk bersekolah. Hal ini demikian karena pada dsarnya lingkungan disekitar sekolah tersebut bisa dikatakan masih kurangnya kesadaran akan pendidikan dan faktor ekonomi yang kurang mendukung juga menjadi perhatian pihak sekolah dalam penerimaan siswa baru.

C.     Aspek-aspek pedoman yang menjadi pedoman di dalam penerimaan siswa baru di SDN Tegalweru.

Didalam Observasi yang dilakukan Tim Penulis, hanya ada dua aspek pedoman yang di ajukan pihak sekolah kepada para calon siswa baru yakni:

1.      Usia Minimal tidak kurang 6,5tahun pada saat mendaftar,
2.      Memiliki Izasah TK.
Dikebanyakan sekolah kita tahu bahwa setiap siswa yang akan memasuki sekolah akan melalui tes masuk, minimal tes membaca, tidak halnya dengan yang terjadi SDN Tegalweru, yang Tim Penulisa dapati, tidak adanya tes dan syarat untuk bisa membacapun tidak dituntut untuk calon siswa baru.
Praoperasional (2 – 7 tahun). Sifat-sifat anak adalah, belum sanggup melakukan operasi mental, belum dapat membedakan antara permainan dengan kenyataan, atau belum dapat mengembangkan struktur rasional yang cukup, masa transisi antara struktur sensori motor ke berpikir operasional. Perubahan yang terlihat pada anak adalah, sifat egosentris baru akan berkembang apabila anak banyak berinteraksi sosial, konsep tentang ruang dan waktu mulai bertambah, bahasa mulai dikuasai.
(Sumber:
http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2156407-tahapan-perkembangan-intelektual-anak/#ixzz1eNYtiPJ2)

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat bagaimana efek dari mengajarkan membaca sebelum waktunya. Seorang psikolog di Amerika membandingkan dua kelompok anak. Kelompok pertama merupakan anak-anak yang dimasukkan ke TK-TK akademis, yakni TK yang metode pembelajarannya seperti layaknya di SD, mengajarkan para muridnya berbagai pelajaran termasuk membaca. Sementara kelompok kedua merupakan murid-murid TK-TK biasa, yakni TK yang mengutamakan metode bermain bagi siswanya. Hasilnya, saat duduk di kelas 1 SD, para lulusan TK akademis ternyata tidak memiliki keunggulan akademis jangka pendek, apalagi jangka panjang, jika dibandingkan dengan siswa lulusan TK biasa. Bahkan murid-murid TK akademis terlihat lebih gelisah dan kurang kreatif jika dibandingkan murid-murid TK biasa (http://today.msnbc.msn.com).
Penelitian lain di Finlandia, yang dilakukan oleh Marit Korkman, Sarianna Baron, Pekka Lahti (1999), diketahui bahwa anak yang belajar membaca saat mendapat pendidikan formal di usia 6-7 tahun memiliki prestasi membaca lebih bagus dibanding anak lain yang belajar membaca di usia sebelum 6 tahun. Hal ini diketahui ketika dilakukan tes pada anak-anak tersebut di usia 9 atau 10 tahun (jurnal Developmental Neuropsychology, Vol. 16, 1999).
Berdasarkan teori di atas, maka Tim Penulis menyimpulkan bahwa Perkembangan secara umum telah sesuai dengan tahapan anak usia sekolah dasar terlebih para calon siswa baru yang akan menjadi murid di SD tersebut. Pada kenyaataannya disekolah ini juga terdapat kendala pada perkembanagan peserta didik yang diluar kontrol akibat dari pengaruh lingkungan yang kurang sehat. Tim Penulis mengatakan kurang sehat karena lingkungan di sekitar sekolah tergolong heterogen terdiri dari berbagai kalangan, namun dominan kalangan petani yang taraf pendidikanya masih tergolong dibawah rata-rata, hal ini juga lah yang mendorong pihak sekolah mengambil langkah untuk tidak melakukan tes masuk sekolah atau dengan kata lain menuntut calon siswa baru bisa membaca.
D.     Program-program Ekstra yang ada di SDN Tegalweru.

Didalam pemaparan pihak sekolah, kegiatan ekstra yang ada disekolah tersebut diantara lain adalah sebagai berikut :

1.      Pramuka
2.      Seni Drama ( Proses pembentukan )
3.      Drum Band/ Marching band ( Proses pembentukan )

E.      Analisis dampak dari kegiatan yang diberikan pihak sekolah terhadap siswa yang ada di SDN Tegalweru.

1.      Perkembangan Psikoseksual ( Freud)
Fase laten (6-12 tahun)
-         Kepuasan anak mulai terintegrasi, anak akan menggunakan energi fisik dan psikologis untuk mengeksplorasi  pengetahuan dan pengalamannya melalui aktifitas fisik m/p sosialnya.
-         Pada awal fase laten ,anak perempuan lebih menyukai teman dgn jenis kelamin yang sama, demikian juga sebaliknya.
Pertanyaan anak semakin banyak, mengarah pada sistem reproduksi (Orang tua harus bijaksana dan merespon)
2.      Perkembangan Psikososial ( Erik Erikson  )
Industry versus inferiority (6-12 tahun)
-         Anak akan belajar untuk bekerjasama  dan bersaing dalam kegiatan akademik m/p dalam pergaulan melalui permainan yg dilakukan bersama.
-         Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yg diinginkan sehingga anak pada usia ini rajin dalam melakukan sesuatu.
-         Apabila dalam tahap ini anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkunganya dan anak tidak berhasil memenuhinya maka akan timbul rasa inferiorty ( rendah diri ).
-         Reinforcement dari orang tua atau orang lain  menjadi begitu penting untuk menguatkan perasaan berhasil dalam melakukan sesuatu.
3.      Perkembangan Kognitif ( Piaget )
Tahap Kongkret (7-11 tahun)
-         Pemikiran anak meningkat atau bertambah logis dan koheren
-         Kemampuan berpikir anak sudah operasional, imajinatif dan dapat menggali objek  untuk memecahkan suatu masalah.
Berdarkan beberapa teori diatas Tim Penulis menyimpulkan bahwa kegiatan ekstra yang disajikan pihak sekolah sesuia dengan perkembangan usia anak pada level 6-11 tahun, dengan analisis sebagai berikut :
a.       Pramuka
Didalam pengajaran pramuka anaak diajarkaan bagaimana saling berkerjasama, melatih ketangkasan, dilatih untuk menganalisis beberapa permasalahan atau mencari jalan keluar dalam konteks masalah sederhana, misal : membagai tugas didalam kegiatan bagi ketua regu, memecahahkan teka-teki ( dalam pembelajaran sandi ). Anak juga diajarkan bagaimana bergaul terhadap orang lain, bagaimna berinteraksi dengn orang yang lebih tua dari pada anak ( terhadap Pembina ). Kemandirian. Misalkan suatu saat kita mnegalami kecelakaan di tempat terpencil jauh dari pemukiman, pramuka mengajarkan P3K, tali temali, dsb. Jemuran yang patah pun dapat diatasi sendiri. Mendapat keluarga baru. Tidak hanya di sekolah, di kota, di Indonesia, bahkan di duniapun berkat “pramuka” , orang sedunia bisa bertemu seperti Jambore Dunia. Lebih mencintai Lingkungan. Bagaimana pramuka mengajarkan tentang lingkungan alam beserta pelestariannya, mengenal flora dan fauna. Lewat penjelejahan alam bebas pramuka diajarkan untuk lebih akrab dengan alam. Leadership. Melalui pramuka diajarkan jiwa kepemimpinan, disiplin, kejujuran, tanggungjawab, menjawab semua masalah dan mengatasinya,.

b.      Seni Drama
Didalam ekstra ini Tim Penulis berpendapat; berdasarkan Soemanto ( 2006: 15) Sebuah perbuatan atau laku di panggung dapat bernas dan berbobot jika dilandasi alasan. Tanggapan yang muncul dalam diri seseorang menjadi alasan suatu perbuatan. Karena di panggung ada benda , suara dan cahaya yang dapat dilihat, diraba, didengar, dibaui, dan bahkan dicecap ( misalnya makanan atau minuman), maka rangsangan untuk menciptakan motif atau alasan itu tersedia di panggung.

Hal diatas menjelaskan bahwa di usia anak sekolah (6-11 tahun) dan sesuai dengan perkembangan anak di SDN Tegalweru, selaras dengan perkembangan anak yang dalam tahap perkembangan yang maksimal. Anak mulai dikenalkan berbagai peran yang berbeda dan diajarkan bagaimana memahami sesutu yang berbeda didalam bergaul sesama teman ataupun dengan orang yang lebih tua.

c.       Drum Band/ Marching band
Dalam konteks pendidikan dan pertumbuhan emosional siswa, pembinaan watak dan kepribadian melalui pelatihan marching band ini sangat direkomendasikan.
Pasalnya, musikalitas marching band identik dengan kerjasama dan keutuhan team, tidak bisa saling menonjolkan kemampuan atau kepiawaian masing-masing. Kenyataan ini yang diharapkan mampu untuk melatih kesabaran dan kebersamaan para
siswa. Diliat dari kegiatannya yang terbagi dua bagian tak terpisahkan, yakni musikal dan visual, maka marching band terasa lebih kompleks jika dibandingkan dengan kegiatan lain. Disamping itu marching band melalui musik bertujuan membina watak.

F.      Usulan Kegiatan ekstra dan perangkat Pendidikan Di Sekolah Dasar Negri Tegalweru.

Tim Penulis mengusulkan adanya penambahan beberapa kegiatan ekstra diantarnya :
1.      Kegiatan ekstra yang berlatar belakang keagamaan ( Contoh, Tilawatil Qur’an ). Berdasarkan observasi yang dilakuakan Tim Penulis bahwasanya disekolah tersebut kurang pemahaman dasar tentang agama, mushola yang ada dilingkungan sekolah kurang berfungsi sebagaimana seharusnya.
2.      Penambahan ( Jika bisa ) guru pembimbing atau yang sering disebut BP.
3.      Penadampingan yang intesnsif tehadap anak, sejauh pengamataan Tim Penulis para guru lebih cendrung membiarkan anak didiknya bebas ( Hasil yang dilakukan Tim dalam beberapa hari observasi di SD tersebut ).
4.      Menyalurkan minat dan bakat para siswa yang berprestasi di dalam bidang tertentu. ( Contoh, dalam bidang minat bakat seperti bidang kesenian).


1 komentar:

  1. Review of the UK's Biggest Casino Software for 2020
    The latest 바카라양방 casino software from NetEnt is considered the best-known gaming software 야동 사이트 순위 provider. While it does have 식보 some nice features 마추 자 사이트 to 벳썸 keep you at

    BalasHapus