LAPORAN
OBSERVASI PERKEMBNGAN PESERTA DIDIK ANAK
USIA SD
DI SD NEGRI TEGALWERU DAU MALANG
A.
Pendahuluan
Industry
vs litferioriry (6 Tahun – 11 Tahun). Anak mulai mampu berpikir deduktif,
bermain dan belajar menurut peraturan yang ada. Dimensi psikososial yang
rnuncul pada masa ini adalah: sense of industry =
sense of inferiority. Anak didorong untuk membuat, melakukan dan mengerjakan
dengan benda-benda yang praktis. dan mengerjakannya sampai selesai sehingga
menghasilkan sesuatu. Berdasarkan hasilnya mereka dihargai dan
di mana perlu diberi hadiah. Dengan demikian rasa atau sifat
ingin menghasilkan sesuatu dapat dikembangkan. Pada usia sekolah dasar ini
dunia anak bukan hanya lingkungan rumah saja melainkan mencakup
juga lembaga-lembaga lain yang mempunyai peranan
penting dalam perkembangan individu. Pengalaman-pengalaman sekolah anak
mempengaruhi industry dan inferiority anak. Anak dengan IQ 80 atau 90 akan
mempunyai pengalaman sekolah yang kurang memuaskan walaupun sifat industry
dipupuk dan dikembangkan di rutinitas. Ini dapat
menimbulkan rasa inferiority (rasa tidak mampu). Keseimbangan industry dan
inferiority bukan hanya bergantung kepada orang tuanya, tetapi dipengaruhi pula
oleh orang-orang dewasa lain yang berhubungan dengan anak itu
B. Tahahapan
Penerimaan Siswa baru di SDN Tegalweru
Secara
umum penerimaan siswa baru yang ada di sekolah tersebut sama halnya dengan
sekolah kebanyakan pada umumnya. Namun ada beberapa hal yang membedakan
disekolah tersebut. Drs. Syamsul M.Si, menyatakan bahwa secara khusus
penerimaan di SDN Tegalweru terbilang tidak ada, tidak ada tes masuk untuk
seolah tersebut yang terpenting adanya kemaun dari peserta didik untuk
bersekolah. Hal ini demikian karena pada dsarnya lingkungan disekitar sekolah
tersebut bisa dikatakan masih kurangnya kesadaran akan pendidikan dan faktor
ekonomi yang kurang mendukung juga menjadi perhatian pihak sekolah dalam
penerimaan siswa baru.
C. Aspek-aspek
pedoman yang menjadi pedoman di dalam penerimaan siswa
baru di SDN Tegalweru.
Didalam
Observasi yang dilakukan Tim Penulis, hanya ada dua aspek pedoman yang di ajukan
pihak sekolah kepada para calon siswa baru yakni:
1. Usia
Minimal tidak kurang 6,5tahun pada saat mendaftar,
2. Memiliki
Izasah TK.
Dikebanyakan
sekolah kita tahu bahwa setiap siswa yang akan memasuki sekolah akan melalui
tes masuk, minimal tes membaca, tidak halnya dengan
yang terjadi SDN Tegalweru, yang Tim Penulisa dapati, tidak adanya tes dan
syarat untuk bisa membacapun tidak dituntut untuk calon siswa baru.
Praoperasional
(2 – 7 tahun). Sifat-sifat anak adalah, belum sanggup melakukan operasi mental,
belum dapat membedakan antara permainan dengan kenyataan, atau belum dapat
mengembangkan struktur rasional yang cukup, masa transisi antara struktur
sensori motor ke berpikir operasional. Perubahan yang terlihat pada anak
adalah, sifat egosentris baru akan berkembang apabila anak banyak berinteraksi
sosial, konsep tentang ruang dan waktu mulai bertambah, bahasa mulai dikuasai.
(Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2156407-tahapan-perkembangan-intelektual-anak/#ixzz1eNYtiPJ2)
(Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/2156407-tahapan-perkembangan-intelektual-anak/#ixzz1eNYtiPJ2)
Berbagai penelitian telah dilakukan
untuk melihat bagaimana efek dari mengajarkan membaca sebelum waktunya. Seorang
psikolog di Amerika membandingkan dua kelompok anak. Kelompok pertama merupakan
anak-anak yang dimasukkan ke TK-TK akademis, yakni TK yang metode
pembelajarannya seperti layaknya di SD, mengajarkan para muridnya berbagai
pelajaran termasuk membaca. Sementara kelompok kedua merupakan murid-murid
TK-TK biasa, yakni TK yang mengutamakan metode bermain bagi siswanya. Hasilnya,
saat duduk di kelas 1 SD, para lulusan TK akademis ternyata tidak memiliki
keunggulan akademis jangka pendek, apalagi jangka panjang, jika dibandingkan
dengan siswa lulusan TK biasa. Bahkan murid-murid TK akademis terlihat lebih
gelisah dan kurang kreatif jika dibandingkan murid-murid TK biasa (http://today.msnbc.msn.com).
Penelitian lain di Finlandia, yang
dilakukan oleh Marit Korkman, Sarianna Baron, Pekka Lahti (1999), diketahui
bahwa anak yang belajar membaca saat mendapat pendidikan formal di usia 6-7
tahun memiliki prestasi membaca lebih bagus dibanding anak lain yang belajar
membaca di usia sebelum 6 tahun. Hal ini diketahui ketika dilakukan tes pada
anak-anak tersebut di usia 9 atau 10 tahun (jurnal Developmental
Neuropsychology, Vol. 16, 1999).
Berdasarkan teori di atas,
maka Tim Penulis menyimpulkan bahwa Perkembangan secara umum telah sesuai
dengan tahapan anak usia sekolah dasar terlebih para calon siswa baru yang akan
menjadi murid di SD tersebut. Pada kenyaataannya disekolah ini juga terdapat
kendala pada perkembanagan peserta didik yang diluar kontrol akibat dari
pengaruh lingkungan yang kurang sehat. Tim Penulis mengatakan kurang sehat
karena lingkungan di sekitar sekolah tergolong heterogen terdiri dari berbagai kalangan,
namun dominan kalangan petani yang taraf pendidikanya masih tergolong dibawah
rata-rata, hal ini juga lah yang mendorong pihak sekolah mengambil langkah
untuk tidak melakukan
tes masuk sekolah atau dengan kata lain menuntut calon siswa baru bisa membaca.
D. Program-program
Ekstra yang ada di SDN Tegalweru.
Didalam pemaparan
pihak sekolah, kegiatan ekstra yang ada disekolah tersebut diantara lain adalah
sebagai berikut :
1.
Pramuka
2.
Seni Drama ( Proses pembentukan )
3.
Drum Band/ Marching
band ( Proses
pembentukan )
E. Analisis dampak
dari kegiatan yang diberikan pihak sekolah terhadap siswa yang ada di SDN
Tegalweru.
1.
Perkembangan Psikoseksual ( Freud)
Fase laten
(6-12 tahun)
-
Kepuasan anak mulai terintegrasi, anak akan
menggunakan energi fisik dan psikologis untuk mengeksplorasi pengetahuan dan pengalamannya melalui aktifitas
fisik m/p sosialnya.
-
Pada awal fase laten ,anak perempuan lebih menyukai
teman dgn jenis kelamin yang sama, demikian juga sebaliknya.
Pertanyaan
anak semakin banyak, mengarah pada sistem reproduksi (Orang tua harus
bijaksana dan merespon)
2.
Perkembangan Psikososial ( Erik Erikson )
Industry
versus inferiority (6-12 tahun)
-
Anak akan belajar untuk bekerjasama dan bersaing dalam kegiatan akademik m/p
dalam pergaulan melalui permainan yg dilakukan bersama.
-
Anak selalu berusaha untuk mencapai sesuatu yg
diinginkan sehingga anak pada usia ini rajin dalam melakukan sesuatu.
-
Apabila dalam tahap ini anak terlalu mendapat tuntutan
dari lingkunganya dan anak tidak berhasil memenuhinya maka akan timbul rasa
inferiorty ( rendah diri ).
-
Reinforcement dari orang tua atau orang lain menjadi begitu penting untuk menguatkan
perasaan berhasil dalam melakukan sesuatu.
3.
Perkembangan Kognitif ( Piaget )
Tahap
Kongkret (7-11 tahun)
-
Pemikiran anak meningkat atau bertambah logis dan
koheren
-
Kemampuan berpikir anak sudah operasional, imajinatif
dan dapat menggali objek untuk
memecahkan suatu masalah.
Berdarkan
beberapa teori diatas Tim Penulis menyimpulkan bahwa kegiatan ekstra yang
disajikan pihak sekolah sesuia dengan perkembangan usia anak pada level 6-11
tahun, dengan analisis sebagai berikut :
a.
Pramuka
Didalam
pengajaran pramuka anaak diajarkaan bagaimana saling berkerjasama, melatih
ketangkasan, dilatih untuk menganalisis beberapa permasalahan atau mencari
jalan keluar dalam konteks masalah sederhana, misal : membagai tugas didalam
kegiatan bagi ketua regu, memecahahkan teka-teki ( dalam pembelajaran sandi ).
Anak juga diajarkan bagaimana bergaul terhadap orang lain, bagaimna
berinteraksi dengn orang yang lebih tua dari pada anak ( terhadap Pembina ). Kemandirian.
Misalkan suatu saat kita mnegalami kecelakaan di tempat terpencil jauh dari
pemukiman, pramuka mengajarkan P3K, tali temali, dsb. Jemuran yang patah pun
dapat diatasi sendiri. Mendapat keluarga baru. Tidak hanya di
sekolah, di kota, di Indonesia, bahkan di duniapun berkat “pramuka” , orang
sedunia bisa bertemu seperti Jambore Dunia. Lebih mencintai Lingkungan.
Bagaimana pramuka mengajarkan tentang lingkungan alam beserta
pelestariannya, mengenal flora dan fauna. Lewat penjelejahan alam bebas pramuka
diajarkan untuk lebih akrab dengan alam. Leadership.
Melalui pramuka diajarkan jiwa kepemimpinan, disiplin, kejujuran,
tanggungjawab, menjawab semua masalah dan mengatasinya,.
b.
Seni Drama
Didalam ekstra
ini Tim Penulis berpendapat; berdasarkan Soemanto ( 2006:
15) Sebuah perbuatan atau laku di panggung dapat bernas dan berbobot jika
dilandasi alasan. Tanggapan yang muncul dalam diri seseorang menjadi alasan
suatu perbuatan. Karena di panggung ada benda , suara dan cahaya yang dapat
dilihat, diraba, didengar, dibaui, dan bahkan dicecap ( misalnya makanan atau
minuman), maka rangsangan untuk menciptakan motif atau alasan itu tersedia di
panggung.
Hal diatas menjelaskan bahwa di usia anak sekolah (6-11 tahun) dan sesuai
dengan perkembangan anak di SDN Tegalweru, selaras dengan perkembangan anak
yang dalam tahap perkembangan yang maksimal. Anak mulai dikenalkan berbagai
peran yang berbeda dan diajarkan bagaimana memahami sesutu yang berbeda didalam
bergaul sesama teman ataupun dengan orang yang lebih tua.
c.
Drum Band/
Marching band
Dalam
konteks pendidikan dan pertumbuhan emosional siswa, pembinaan watak dan
kepribadian melalui pelatihan marching band ini sangat direkomendasikan.
Pasalnya, musikalitas marching band identik dengan kerjasama dan keutuhan team, tidak bisa saling menonjolkan kemampuan atau kepiawaian masing-masing. Kenyataan ini yang diharapkan mampu untuk melatih kesabaran dan kebersamaan para siswa. Diliat dari kegiatannya yang terbagi dua bagian tak terpisahkan, yakni musikal dan visual, maka marching band terasa lebih kompleks jika dibandingkan dengan kegiatan lain. Disamping itu marching band melalui musik bertujuan membina watak.
Pasalnya, musikalitas marching band identik dengan kerjasama dan keutuhan team, tidak bisa saling menonjolkan kemampuan atau kepiawaian masing-masing. Kenyataan ini yang diharapkan mampu untuk melatih kesabaran dan kebersamaan para siswa. Diliat dari kegiatannya yang terbagi dua bagian tak terpisahkan, yakni musikal dan visual, maka marching band terasa lebih kompleks jika dibandingkan dengan kegiatan lain. Disamping itu marching band melalui musik bertujuan membina watak.
F.
Usulan Kegiatan ekstra dan perangkat Pendidikan Di Sekolah Dasar Negri
Tegalweru.
Tim Penulis mengusulkan adanya
penambahan beberapa kegiatan ekstra diantarnya :
1.
Kegiatan ekstra yang berlatar belakang keagamaan ( Contoh, Tilawatil Qur’an
). Berdasarkan observasi yang dilakuakan Tim Penulis bahwasanya disekolah
tersebut kurang pemahaman dasar tentang agama, mushola yang ada dilingkungan
sekolah kurang berfungsi sebagaimana seharusnya.
2.
Penambahan ( Jika bisa ) guru pembimbing atau yang sering disebut BP.
3.
Penadampingan yang intesnsif tehadap anak, sejauh pengamataan Tim Penulis
para guru lebih cendrung membiarkan anak didiknya bebas ( Hasil yang dilakukan
Tim dalam beberapa hari observasi di SD tersebut ).
4.
Menyalurkan minat dan bakat para siswa yang berprestasi di dalam bidang
tertentu. ( Contoh, dalam bidang minat bakat seperti bidang kesenian).
Review of the UK's Biggest Casino Software for 2020
BalasHapusThe latest 바카라양방 casino software from NetEnt is considered the best-known gaming software 야동 사이트 순위 provider. While it does have 식보 some nice features 마추 자 사이트 to 벳썸 keep you at