Selasa, 03 Juni 2014

Kepala Sekolah, Bagaimana Seharusnya?


Sunardi Ahmad [201320240211062]
Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang

Kepala Sekolah, Bagaimana Seharusnya?
dalam review
Makalah Teori Organisasi (Aspek Organisasi, Tipe Kepemimpinan dan Gaya Kepemimpinan dalam Organisasi) oleh Mulyadin.
Dosen Pengampu: Dr. Masduki, M.Pd

Dua  peran  itu  dalam  organisasi  semestinya  seperti  dua  sisi  mata  uang yang  tidak  dapat  dipisahkan  karena  tanpa  keahlian  manajerial,  seorang  pemimpin akan kesulitan menetapkan langkah-langkah kerja rasional yang didasari oleh nilai-nilai teoritis pengembangan organisasi. Kondisi itu dapat menimbulkan kemandekan. Sebaliknya, apabila seorang manajer tidak memiliki keahlian memimpin maka lambat laun organisasi akan kehilangan pamornya karena tidak ada orang  yang dijadikan  rujukan,  memberi  motivasi,  dan  menentukan  arah organisasi.  Artinya,  dalam  iklim  organisasi  yang  turbulence,  tidak  cukup  dengan langkah kerja yang teliti, rasional, sistematis, dan terprogram secara baik, tetapi juga diperlukan keahlian mendorong para personil untuk bekerja penuh semangat,  menjadi  katalisator  yang  mampu  berperan  mewarnai  sikap  dan  perilaku orang ke arah lebih baik (Komariah dan Triatna, 2006).
Fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah  berarti  kepala  sekolah  dalam  kegiatan  memimpinnya  berjalan  melalui tahap-tahap  kegiatan  sebagai  berikut:  Pertama,  perencanaan  (planning). Perencanaan pada dasarnya menjawab pertanyaan apa yang  harus dilakukan, bagaimana  melakukannya,  dimana  dilakukannya,  oleh  siapa  dan  kapan  di lakukan.  Kegiatan-kegiatan  sekolah  harus  direncanakan  oleh  kepala  sekolah, hasilnya berupa rencana tahunan sekolah yang akan berlaku pada tahun ajaran berikutnya.  Rencana tahunan  tersebut  kemudian  dijabarkan  ke  dalam program tahunan sekolah yang biasanya dibagi ke dalam dua program semester.
Kedua, pengorganisasian (organizing). Kepala sekolah sebagai pemimpin bertugas  untuk  menjadikan  kegiatan-kegiatan  sekolah  berjalan  dengan  lancer, sehingga  tujuan  sekolah  dapat  tercapai.  Kepala  sekolah  perlu  mengadakan pembagian  kerja  yang  jelas  bagi  guru-guru  (dan  staf)  yang  menjadi  anak buahnya.  Dengan  pembagian  kerja  yang  baik,  pelimpahan wewenang  dan tanggung  jawab  yang  tepat  serta  mengingat  prinsip-prinsip  pengorganisasian kiranya kegiatan sekolah akan berjalan lancar dan tujuan dapat tercapai.
Ketiga, pengarahan (directing). Pengarahan adalah kegiatan membimbing anak buah dengan jalan memberi perintah (komando), memberi petunjuk, mendorong semangat kerja, menegakkan disiplin,  dan memberikan berbagai usaha lainnya agar mereka dalam melakukan pekerjaan mengikuti arah yang ditetapkan dalam petunjuk, peraturan atau pedoman yang telah ditetapkan.
Keempat,  pengkoordinasian  (coordinating).  Pengkoordinasian  adalah kegiatan menghubungkan orang-orang dan tugas-tugas sehingga terjalin kesatuan  atau  keselarasan  keputusan,  kebijaksanaan,  tindakan,  langkah,  sikap  serta tercegah dari timbulnya pertentangan, kekacauan, kekembaran (duplikasi), dan kekosongan tindakan.
Kelima,  pengawasan  (controlling).  Pengawasan  adalah  tindakan  atau kegiatan  usaha  agar  pelaksanaan  pekerjaan  serta  hasil  kerja  sesuai  dengan rencana, perintah, petunjuk atau ketentuan-ketentuan lainnya yang telah ditetapkan.
Mengapa banyak kepala sekolah gagal dalam kepemimpinannya? Salah satunya adalah karena mereka sedikit meluangkan waktu untuk mengenal dan berinteraksi  dengan  pendidik  dan  tenaga  kependidikan  di  sekolah,  sehingga mereka  tidak  mengetahui  kondisi  dan  kebutuhan  bawahannya. Kepekaan  rasa kepala  sekolah  terhadap  individu-individu  yang  dipimpinnya  sangat  rendah. Mereka  menutup  mata  dan  telinga  terhadap  situasi  kritis  yang  terjadi  di  arusbawah,  karena  mereka  merasa  terhormat,  sehingga  merasa  rendah  jika  harus turun  menemui dan  menyapa  bawahannya. Sikap  dan perilaku  kepala  sekolah tersebut  menyebabkan  ketidakefektifan  kepemimpinan  kepala sekolah,  sebab pendidik  dan  tenaga  kependidikan  sudah  tidak  respek  lagi  terhadap  mereka. Kepatuhan dan kinerja bawahan tidak didasarkan pada nilai tertentu melainkan hanya kamuplase belaka. Maxwell (2000) menulis,  “Jika Anda tidak meluangkan  waktu  untuk  berhubungan  dengan  bawahan  Anda,  Anda  tidak  akan mampu memimpin mereka dengan efektif”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar