Sunardi Ahmad [201320240211062]
Magister Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan
Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang
Paule Freire dalam
bukunya yang berjudul “The Politic Of
Education” mengisaratkan bahwa pada dasarnya pendidikan itu tidak terlepas
dari dunia politik, pada dasarnya hubungan antara politik dengan pendidikan di
Indonesia sudah seperti “tho faces of a
coin” yang memiliki ikatan yang sangat kuat, dibantah ataupun tidak, sejauh
ini menurut pandangan penulis itu sangatlah nyata.
Jika kita ingin melihat
lebih jauh kenapa penulis mengatakan seperti dua sisi mata uang, alasannya
antara lain: (1) pada zaman penjajahan politik pendidikan sudah dimulai yakni
pada zaman Belanda yang bisa bersekolah hanya untuk golongan tertentu yakni
orang dekat Belanda, orang pribumi yang memiliki jabatan (golongan ningrat),
(2) pada saat orde baru berkuasa, pendidikan dimaksudkan sebagai alat politik
untuk mendulang suara rakyat untuk tetap berkuasa (3) kurikulum yang selalu
berubah disetiap pergantian menteri
pendidikan (indikasinya disetiap pembuatan kurikulum/penetapannya menelan biasa
yang tidak sedikit dan ini untung bagai penguasa), (4) mutu pendidikan yang
diawasi hanya diperkotaan yang dekat dengan pemerintahan, (5) gagalnya ujian
nasional dan sertifikasi guru, dan (6) gagalnya pemerintah dalam mengawal
penyelenggaraan pendidiklan di Indonesia.
Jika disimpulkan dewasa
ini pendidikan kita termasuk buruk dikawasan Asia, hal ini bisa kita lihat dari
kasus yang terjadi baru-baru ini didunia pendidikan kita. Kasus Jakarta International School adalah
salah satunya, dalam kacamata politik hal ini sudah barang tentu menjadi sebuah
tradisi tutup mulut. Kenapa dikatakan tutup mulut karena kita ketahui bahwa
salah satu penyelenggara pendidikan di JIS tidak memiliki ijin penyelenggaan
pendidikan, namun kenapa pihak JIS bisa menyelenggarakan pendidikan jikalau
tidak ada oknum pelaku pemberi ijin demi mendapatkan “keuntungan” pribadi atau
kelompok. Dari sini sudah terlihat jelas betapa ironisnya pendidikan kita yang
dijadikan lahan politik demi keuntungan individu maupun kelompok.
Ada yang menarik dari
tulisan yang disampaikan oleh Ki Supriyoko bahwa sekitar 5% anak usia SD, 45%
anak usia SMP dan 60% anak usia SMA tidak bersekolah, itu dilihat pada tahun
2009 tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi ditahun 2014. Banyak yang
mengatakan angka anak tidak bersekolah jauh menurun ditahun 2014, namun penulis
berani mengatakan penurunan hanya berlaku pada daerah perkotaan atau daerah
yang dekat dengan pemerintahan, selebihnya untuk daerah terpencil, daerah yang
berkembangang dan jauh dari pemerintahan pendidikan itu barang mahal yang hanya
sebagaian kecil penduduk yang mampu menikmatinya.
Sekarang kita lihat apa
yang dilakukan politik terhadap sertifikasi pendidik di Indonesia, sebelumnya
kita lihat gaji guru dibeberapa Negara maju, di Singapura Rp 512 juta /tahun,
Korea Selatan Rp 491 juta /tahun, Jepang Rp 489 juta /tahun. Berapa gaji guru
di Indonesia, dibumi pertiwi ini gaji guru tidak lebih dari 70 juta dalam
setahun. Penulis berpendapat hal yang dominan dalam hal ini adalah factor
politik yang ikut campur dalam merumuskan anggaran pendidikan kita, karena jika
dianggarkan murni untuk pendidikan maka kesejahteraan pendidikan kita bisa jauh
diatas dari Jepang dan Korea Selatan. Hal lain adalah kurangnya penghargaan
dari pemerintah terhadap pendidikan lebih khusus kepada guru dan tenaga
pendidik lainnya.
Politik pendidikan juga
berpengaruh besar terhadap pemerataan pembangunan pendidikan ditanah air. Kita
lihat sudah 64 tahun bumi pertiwi merdeka tapi masih banyak gedung sekolah yang
tak layak pakai dan bahkan roboh, sekolah dikandang ayam dan lain sebagainya.
Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para eksektuif dan legislative di pusat
maupun daerah masih jauh dari kata menyentuh keakar permasalahan pendidikan
kita. Kebijakan yang mereka buat tidak terlepas dari kontrak politik dengan
parpol pengusung maupun kepentingan pribadi pembijak sendiri dan ini terjadi
secara turun menurun.
Menutup review ini
penulis ingin menegaskan bahawa jika politik pendidikan dimurnikan dan
benar-benar diperuntungkan bagi kemajuan pendidikan Indonesia, maka bukan tidak
mungkin bangsa kita akan kembali menjadi kiblad pendidikan bagi Negara-negara
Asia, khususnya Asia Tenggara. Pada dasarnya kita sangat kaya akan orang-orang
cerdas, potensi akademik yang baik, pendukung pendidikan yang istimewa, semua
itu bisa terwujud dengan cara adanya penghargaan tinggi kepada dunia
pendidikan, dipisahkannya pendidikan denga politik kekuasaan dan yang terakhir
adalah dikembalikannya asas pendidikan ke Pancasila dan UUD 1945.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar